Showing posts with label Lampiran2. Show all posts
Showing posts with label Lampiran2. Show all posts

Monday, 7 May 2018

Lampiran: Mohammad Bagus Teguh Perwira

Praktisi Konsultan Perencanaan Keuangan Personal 10

Nama : Mohammad Bagus Teguh Perwira
Gelar (akademis & sertifikasi) : Lc, MA, CFP®, AEPP®
Profesi : Independent Financial Planner
Lamanya menjalani profesi (tahun) : 8 tahun
Spesialisasi keahlian profesional : Islamic Financial Planning, Estate Planning, Islamic Finance
Keterangan : -

1. Bagaimana tingkat konsumerisme di masyarakat, jika dilihat dari pengamatan dan pengalaman anda sebagai konsultan?
Tingkat konsumerisme khususnya di Ibu Kota Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia tergolong tinggi bahkan sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan ramainya semua pusat perbelanjaan dan mal-mal. Selain itu, ramainya pengunjung setiap kali diadakan pameran gadget dan produk-produk handycraft seperti inacraft dan sejenisnya. Indikator lainnya adalah adanya budaya bahwa kesejahteraan seseorang banyak dilihat dari kedaraan yang ditumpanginya.

2. Apa penyebab terjadinya konsumerisme pada masyarakat?
Setidaknya ada beberapa penyebab:
a. Tidak adanya pendidikan formal yang mengajarkan tentang pengelolaan keuangan (financial planning). Pendidikan di Indonesia “hanya” mengajarkan bagaimana mencari uanga, tapi tidak mengajarkan bagaimana mengelola uang setelah punya uang.
b. Kurangnya kesadaran untuk menyiapkan tujuan jangka panjang.
c. Indonesia sebagai sasaran pasar yang besar bagi seluruh produk gadget, fashion, otomotif dan barang-barang luxury.
d. Mudahnya mendapatkan pinjaman/kredit melalui kartu kredit dan KTA (Kredit Tanpa Agunan) serta pinjaman lainnya.
e. Banyaknya usia produktif-produktif di Indonesia.
f. Tingkan financial literacy yang rendah.
g. Tend-nya gaya hidup hedonisme pada golongan menengah di Indonesia

3. Bagaimana dampak konsumerisme pada kondisi keuangan personal?
Dampak konsumerisme pada keuangan personal yang sering terjadi adalah:
a. Memiliki Utang yang yang tidak sangup dibayar.
b. Rumah tangga tidak harmonis karena adanya masalah keuangan, hingga terjadinya perceraian. (tingkat perceraian meningkat dan penyebab perceraian terbesar adalah karena masalah keuangan).
c. Pendidikan anak terbengkalai karena tidak mampu membayar biaya pendidikan.
d. Masa tua yang suram karena tidak memiliki bekal untuk masa pensiun.

4. Apakah pengelolaan keuangan dapat mengeliminir dampak negatif konsumerisme?
Ya.

5. Mengapa dan bagaimana caranya?
Karena dengan pengelolaan keuangan yang baik, seseorang dapat mengendalikan konsumsi ketika memiliki uang. Dengan pengelolaan keuangan seseorang akan menyiapkan biaya hidup di masa mendatang dari jauh-jauh hari. Pengelolaan keuangan pada dasarnya adalah risk management (pengelolaan risiko), termasuk risiko tidak bisa pensiun, risiko tidak bisa menyekolahkan anak, risiko meninggal dini dll. Karena pengelolaan keuangan akan mengantisipasi segala risiko tersebut dengan investasi, menabung dan asuransi. sehingga risiko/dampak negatif dari konsumerisme bisa diminimalisir.
Dengan pengelolaan keuangan, hidup seseorang akan menjadi lebih teratur dan disiplin. Karena pola konsumsi akan direncanakan dalam pengelolaan keuangannya.

6. Apakah konsep manajemen harta Islami menjadi landasan utama bagi seorang muslim dalam mengelola keuangan?
Saat ini masih belum.

7. Mengapa dan bagaimana caranya?
Karena masih banyak umat islam yang belum mengenal perencanaan keuangan islami atau manajemen harta islami. sehingga perencanaan keuangan maupun manajemen harta secara islami harus terus disosialisasikan.

8. Bagaimana seharusnya pembagian persentase alokasi pendapatan personal sehingga dapat menghindari konsumerisme?
Cash flow management sesuai perioritasnya dan prosentasenya terhadap pendapatanannya menurut pendapat saya adalah sbb:
a. Bayar cicilan utang 30%-35%
b. Bayar Zakat, minimal 2,5%
c. Investasi, 10%-30%
d. Pengeluaran rutin 40%
e. Life style (gaya hidup) maksimal 20%
Gaya hidup adalah pengeluaran yang bukan kebutuhan pokok, seperti jalan-jalan, ke mal untuk hiburan, pengeluaran pulsa, olahraga, langganan majalah dll.

Lampiran: Sukur Mulia Maldy

Praktisi Konsultan Perencanaan Keuangan Personal 9

Nama : SUKUR MULIA MALDY
Gelar (akademis & sertifikasi) : IR., MM, MBA, CFP, AEPP
Profesi : PERENCANA KEUANGAN
Lamanya menjalani profesi (tahun) : 2 TAHUN
Spesialisasi keahlian profesional : PERENCANA KEUANGAN KONVENSIONAL
Keterangan : -

1. Bagaimana tingkat konsumerisme di masyarakat, jika dilihat dari pengamatan dan pengalaman anda sebagai konsultan?
Secara umum tingkat konsumerisme masyarakat dapat terbagi dua. Pertama, tingkat konsumerisme masyarakat kota besar cukup tinggi. Kedua, tingkat konsumerisme masyarakat non-kota tidak tinggi.

2. Apa penyebab terjadinya konsumerisme pada masyarakat?
Konsumerisme terjadi karena :
- Adanya kesinkronan antara promosi di media elektronik dengan ketersediaan barang dan jasa dipasar, serta akses terhadap barang dan jasa tersebut mudah.
- Adanya kemudahan cara belanja terutama menggunakan kartu kredit, dimana konsumen membeli tanpa berfikir untuk melunasi tagihannya.
- Ketidaktahuan konsumen antara apa yang diinginkan dengan apa yang diperlukan.

3. Bagaimana dampak konsumerisme pada kondisi keuangan personal?
Dampak konsumerisme ini berakibat besar pada keuangan personal. Dari perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran, akan terlihat bahwa seseorang membelanjakan lebih besar dari pendapatan mereka. Sehingga seseorang tidak dapat menabung, bahkan harta likuidnya makin lama makin terkikis.

4. Apakah pengelolaan keuangan dapat mengeliminir dampak negatif konsumerisme?
Pengelolaan keuangan yang baik sudah pasti akan menghindarkan efek negatif konsumerisme.

5. Mengapa dan bagaimana caranya?
a. Pertama, konsumerisme dieliminir dengan memberikan pengetahuan cara yang tepat dalam mengelola keuangan. Misalnya, memberikan pengertian apa belanja yang memang dibutuhkan atau belanja karena keinginan sesaat.
b. Kedua, membuat perencanaan keuangan bersama dengan financial planner
c. Ketiga, mendapingi pelaksanaan rencana keuangan hingga sampai pada tujuan.

6. Apakah konsep manajemen harta Islami menjadi landasan utama bagi seorang muslim dalam mengelola keuangan?
Manajemen harta secara Islami sudah pasti harus menjadi landasan utama pengelolaan keuangan keuangan secara Islami.

7. Mengapa dan bagaimana caranya?
Khususnya dalam hal harta warisan, untuk muslim dan muslimah, perencanaan warisan harus sesuai dengan aturan warisan Islam agar selamat dunia dan akhirat.

8. Bagaimana seharusnya pembagian persentase alokasi pendapatan personal sehingga dapat menghindari konsumerisme?
a. Pertama, 10% harus dialokasikan sebagai dana tabungan.
b. Kedua, dari sisa 90%, maka dialokasikan sbb :
- 35% untuk membayar cicilan hutang produktif
- 75% untuk biaya hidup, biaya pendidikan dan biaya lainnya.

Lampiran: Sari Insaniwati

Praktisi Konsultan Perencanaan Keuangan Personal 8

Nama : Sari Insaniwati
Gelar (akademis & sertifikasi) : CFP
Profesi : Financial Planner
Lamanya menjalani profesi (tahun) : 2
Spesialisasi keahlian profesional : Konsultan Perencanaan Keuangan
Keterangan : -

1. Bagaimana tingkat konsumerisme di masyarakat, jika dilihat dari pengamatan dan pengalaman anda sebagai konsultan?
Tingkat konsumerisme di masyarakat menurut pengalaman saya semakin lama semakin meningkat sejalan dengan makin gencarnya produsen dalam memasarkan barang/jasanya, dan kemudahan dari sisi pendanaan yang ditawarkan oleh bank / lembaga keuangan. Sehingga hal ini mendorong masyarakat untuk membeli sesuatu yang tidak terlalu urgent atau hanya kebutuhan sekunder bahkan tersier.

2. Apa penyebab terjadinya konsumerisme pada masyarakat?
Penyebab konsumerisme atau mungkin lebih tepat saya sebut sebagai perilaku konsumtif banyak faktornya, antara lain :
• Faktor dalam diri individu itu sendiri : setiap orang punya motivasi masing-masing dalam dirinya untuk berperilaku konsumtif, tinggal apakah dia bisa mengendalikan atau tidak.
• Faktor lingkungan : tidak bisa dipungkiri faktor lingkungan berperan besar dalam mendorong seseorang untuk berperilaku konsumtif. Iklan di media, tuntutan lingkungan dalam menetapkan standar gaya hidup, dll Hal ini terutama untuk remaja, di mana agar bisa diterima di suatu grup / komunitas ada standar penampilan yang harus dimiliki (misal : baju dari merek tertentu, nongkrong di tempat tertentu, dll)
• Tingkat ekonomi : makin meningkat ekonomi seseorang, gaya hidupnya makin makin meningkat pula. Tetapi bukan berarti yang tingkat ekonominya rendah pun tidak punya perilaku konsumtif, mungkin dengan level yang berbeda.
• Tingkat pendidikan : seseorang dgn tingkat pemahaman yang baik tentang tingkat kebutuhan / manfaat suatu barang, akan lebih baik dalam membuat keputusan dalam menggunakan uangnya.

3. Bagaimana dampak konsumerisme pada kondisi keuangan personal?
Tentunya Konsumerisme akan berdampak negative terhadap keuangan individu, Mereka akan cenderung berbelanja tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan ketersediaan dana, akan menjadi individu yang tidak punya rencana keuangan di masa depan karena fokus pada keinginan jangka pendek dan lebih buruknya lagi akan sangat tergantung dengan pinjaman.

4. Apakah pengelolaan keuangan dapat mengeliminir dampak negatif konsumerisme?
Sedikit banyak pengelolaan keuangan bisa membantu individu dalam membuat rencana keuangan, baik untuk saat ini maupun untuk masa depan. Individu didorong untuk mengenali mana kebutuhan dan keinginan, disadarkan bahwa masih ada kebutuhan lain yang lebih penting yang harus dipenuhi di masa depan saat sudah tidak produktif lagi,

5. Mengapa dan bagaimana caranya?
Ada beberapa tahapan dalam Perencanaan Keuangan dalam membuat rencana keuangan pribadi / keluarga :
• Mengumpulkan informasi data keuangan untuk mengetahui tingkat kesehatan keuangan pribadi / keluarga.
• Mengidentifikasi tujuan pribadi / keluarga, dan menetapkan skala prioritasnya.
• Melakukan Financial Check Up dan evaluasi kebutuhan dana.
• Membuat rencana keuangan dengan menyajikan rekomendasi investasi dan proteksi asuransi.
• Implementasi dengan melakukan penerapan rekomendasi investasi yang dipilih oleh klien.
• Monitor rencana dengan mengevaluasi pelaksanaan rencana keuangan, dilakukan umumnya setahun sekali atau jika ada tujuan keuangan yang baru atau diganti
Dengan menjalankan semua langkah ini, maka individu akan lebih fokus dalam menggunakan dananya karena adanya prioritas lain yang lebih penting, sehingga tidak terjebak dalam pola hidup konsumtif

6. Apakah konsep manajemen harta Islami menjadi landasan utama bagi seorang muslim dalam mengelola keuangan?
Seharusnya tidak ada dikotomi antara Konsep Manajemen Islami atau Konvensional bagi Muslim, karena semua pengelolaan keuangan harus dilandasi dengan tujuan dan rencana keuangan yang baik sesuai dengan akidah. Tidak hanya dari sisi rencana tetapi juga dalam implementasinya. Jika melihat dari definisi yang diberikan oleh Syahatah, mumgkin ada sedikit perbedaan di sisi pemisahan antara keuangan laki-laki dan perempuan. Untuk yang konvensional, jika telah menjadi pasangan suami istri maka menjadi harta bersama.

7. Mengapa dan bagaimana caranya?
Caranya kembali kepada individunya. Sebagai Perencana Keuangan, kami tidak pernah memaksakan suatu konsep kepada kliennya. Tentu saja kami menjelaskan pula tentang konsep Syariah bagi muslim, tetapi keputusan ada ditangan klien. Kebutuhan seseorang akan berbeda satu sama lainnya, sehingga solusi / saran yang diberikan akan berbeda pula. Tidak hanya dilihat dari kebutuhan & nilai pribadi yang dianut tetapi juga dilihat dari profil risiko, kondisi keuangan, dll.

8. Bagaimana seharusnya pembagian persentase alokasi pendapatan personal sehingga dapat menghindari konsumerisme?
Idealnya dari pendapatan seseorang, hanya 50% nya yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan sisanya bisa digunakan untuk : 5% zakat/kegiatan sosial, 10 % asuransi, 10% tabungan / investasi, dan 25 % cicilan hutang (proporsional antara hutang produktif dan konsumtif).

Lampiran: Reni K. Ashuri

Praktisi Konsultan Perencanaan Keuangan Personal 7

Nama : Reni K. Ashuri
Gelar (akademis & sertifikasi) : ME Sy. CFP. QWP
Profesi : Perencana Keuangan dan Konsultan Bisnis*)
Lamanya menjalani profesi (tahun) : 3 tahun (untuk Perencana keuangan independen)
Spesialisasi keahlian profesional : Pengelolaan keuangan pribadi, karyawan dan keuangan bisnis
Keterangan : konsultan bisnis selama 5 tahun

1. Bagaimana tingkat konsumerisme di masyarakat, jika dilihat dari pengamatan dan pengalaman anda sebagai konsultan?
Dari pengamatan beberapa narasumber artikel dan buku yang saya pelajari, serta pengalaman menangani klien pribadi (dalam masyarakat, komunitas, dan karyawan beberapa perusahaan), menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia dari berbagai profesi dan berbagai tingkat penghasilan, mempunyai sifat konsumtif yang cukup tinggi. Hal ini ditandai dengan lebih besarnya pengeluaran mereka dibanding pendapatan bulanannya. Selain itu, dilihat dari cashflow bulanan mereka, terdapat item konsumsi barang/jasa tersier/luxury, yang sebenarnya bukan merupakan kebutuhan, melainkan hanya untuk meningkatkan citra diri.

2. Apa penyebab terjadinya konsumerisme pada masyarakat?
Penyebab konsumerisme di masyarakat menurut pandangan saya, bisa jadi karena adanya kemajuan teknologi yang sangat pesat. Dimana dampak dari teknologi ini membuat masyarakat dapat mengetahui segala informasi dengan sangat mudah. Dampak negatifnya, apabila masyarakat tidak dapat menyaring informasi yang tidak baik untuk mereka, termasuk menjadi konsumtif karena terkena rayuan iklan di berbagai media yang sangat gencar. Adanya sosial media yang berkembang di masyarakat juga memiliki dampak negatif, yaitu saat banyak orang berlomba-lomba untuk menaikkan citra diri mereka di mata orang lain. Rasa ingin ‘dihargai’ dan ingin ‘dipuji’ oleh orang lain, membuat seseorang akan menaikkan citra dirinya melalui pembelian barang-barang mewah, yang sebenarnya itu diluar kemampuannya.

3. Bagaimana dampak konsumerisme pada kondisi keuangan personal?
Dampak konsumerisme pada keuangan personal jelas akan membuat cashflow keuangan pribadi mereka dalam kondisi negatif atau minus. Yang artinya pengeluaran mereka lebih besar dari pendapatan. Sehingga untuk menutup kekurangannya mereka harus hidup ditopang orang lain (dengan terus menerus berhutang/meminta). Hal ini jika dilakukan terus menerus, maka kondisi seseorang akan menuju kebangkrutan.

4. Apakah pengelolaan keuangan dapat mengeliminir dampak negatif konsumerisme?
5. Mengapa dan bagaimana caranya?
Bersadarkan pengalaman sebagai praktisi keuangan menangani klien pribadi, pengelolaan keuangan hanya merupakan salah satu faktor untuk mengurangi keinginan untuk konsumtif dalam diri. Dimana dalam pengelolaan keuangan pribadi, seseorang dipaksa untuk mengetahui kondisi keuangan pribadinya secara detail dan kontinyu. Mereka akan diberikan pandangan mengenai risiko-risiko yang akan timbul, jika mereka tidak memperbaiki pola manajemen keuangannya. Dan kemudian mereka diharapkan akan mennyesuaikan gaya hidup sesuai dengan penghasilan yang mereka dapatkan, agar mereka dapat hidup tanpa bergantung pada orang lain
Namun selain pengelolaan keuangan ada beberapa faktor yang lain, yang mempengaruhi tingkat konsumtif dari seseorang. Hal tersebut adalah lingkungan dan tingkat pemahaman spiritual. Dimana kedua hal ini sangat berpengaruh besar pada terjadinya konsumerisme di masyarakat. Lingkungan yang terus menerus memberi info/contoh untuk bergaya hidup tinggi, akan membuat seseorang cenderung memiliki gaya hidup yang sama, agar mereka diterima oleh lingkungannya. Begitu pula dengan tingkat pemahaman spiritual, jika seseorang paham akan syariat agama, maka niscaya ia akan selalu mempertimbangkan segala sesuatu ke arah yang lebih positif, termasuk membelanjakan hartanya.

6. Apakah konsep manajemen harta Islami menjadi landasan utama bagi seorang muslim dalam mengelola keuangan?
Dilihat dari kesimpulan dari jawaban no 4 dan 5 diatas, pengelolaan keuangan jika tidak didasari oleh peningkatan nilai spiritual dan edukasi keuangan yang baik, tidak akan berdampak banyak dalam mengeliminir tingkat konsumerisme di masyarakat. Jadi memang tepat jika manajemen harta Islami seharusnya menjadi landasan utama bagi seorang muslim dalam mengelola keuangannya.

7. Mengapa dan bagaimana caranya?
Konsep Islami akan sangat penting bagi seorang muslim sebagai landasan dalam mengelola keuangannya. Nilai-nilai Islam di dalamnya akan menjadi tolok ukur untuk bagaimana seharusnya keuangan/harta seseorang itu di kelola, agar menjadikan kehidupannya menjadi berkah di dunia dan di akhirat.

8. Bagaimana seharusnya pembagian persentase alokasi pendapatan personal sehingga dapat menghindari konsumerisme?
Prosentase alokasi pendapatan bulanan untuk keuangan personal yang sering digunakan oleh financial planner profesional sebagai acuan, adalah sebagai berikut :
Infaq/sedekah : min 2,5%
Hutang : maksimal 35% (termasuk hutang KPR)
Tabungan/investasi : minimal 10%
Proteksi (jika ada) : minimal 10%
Konsumsi : sisanya (sekitar 52,5%)
Alokasi pendapatan ini dapat berbeda pada setiap financial planner, namun perbedaannya tidak terlalu signifikan, melainkan masih dalam kondisi yang hampir sama. Terutama dalam prosentase hutang, beberapa finplan mengalokasikan maksimal 30%, 35% atau ada yang bisa mencapai 40%.

Lampiran: Rahma Mieta

Praktisi Konsultan Perencanaan Keuangan Personal 6

Nama : Rahma Mieta
Gelar (akademis & sertifikasi) : SE. MSi. CFP
Profesi : perencana keuangan independen
Lamanya menjalani profesi (tahun) : 1
Spesialisasi keahlian profesional : perencanaan keuangan personal dan keluarga
Keterangan : sebelumnya bekerja sebagai client relation officer (assistant planner) dan researcher di bidang perencanaan keuangan selama 4 tahun

1. Bagaimana tingkat konsumerisme di masyarakat, jika dilihat dari pengamatan dan pengalaman anda sebagai konsultan?
Saya secara sederhana melihat dari data GDP Indonesia, dimana persentase terbesar sumber GDP Indonesia masih ada pada konsumsi masyarakat (C), sehingga bisa dibilang konsumsi masyarakat masih bisa dibilang cukup tinggi. Kalau berdasarkan pengalaman pribadi, kebanyakan konsumerisme masyarakat masih cukup tinggi terutama dalam bentuk barang-barang gadget.

2. Apa penyebab terjadinya konsumerisme pada masyarakat?
Gaya hidup masyarakat sekitar, misalnya merasa kurang update jika belum memiliki smartphone merk tertentu dikarenakan orang-orang di sekelilingnya rata-rata sudah memiliki smartphone tersebut.

3. Bagaimana dampak konsumerisme pada kondisi keuangan personal?
Kalau tidak terkontrol akan berakibat fatal, setidaknya akan menyebabkan seseorang tersebut hidup di atas kemampuannya. Adanya fasilitas pinjaman seperti kartu kredit, dll. Membuat seseorang memiliki kemampuan untuk membeli barang yang lebih tinggi dibandingkan kemampuan untuk melunasi utangnya.

4. Apakah pengelolaan keuangan dapat mengeliminir dampak negatif konsumerisme?
Iya, pastinya.

5. Mengapa dan bagaimana caranya?
Dengan adanya pengelolaan keuangan, seseorang akan dilatih untuk memiliki sikap disiplin dalam hal keuangan (memiliki financial habit yang baik), seperti membuat anggaran pengeluaran, mencatat arus kas masuk dan keluar, dsb. Secara tidak langsung, ia dituntut untuk bisa membedakan mana yang memang kebutuhan (needs), mana yang hanya keinginan (wants), dan bisa menentukan kebutuhan penting mana yang harus diprioritaskan. Dengan demikian, dampak negatif konsumerisme dapat diminimalisasi.

6. Apakah konsep manajemen harta Islami menjadi landasan utama bagi seorang muslim dalam mengelola keuangan?
Iya.

7. Mengapa dan bagaimana caranya?
Karena agama Islam adalah agama yang menyeluruh sehingga dalam hal mengatur keuangan pun dijelaskan, seperti tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan uang dan tidak pula bersifat kikir, pembagian waris (waris termasuk dalam manajemen harta Islami), dsb. Seorang muslim yang ingin mengelola hartanya secara Islami cukup berlandaskan Al-Qur’an, hadits, dan ketentuan hukum Islam lainnya.

8. Bagaimana seharusnya pembagian persentase alokasi pendapatan personal sehingga dapat menghindari konsumerisme?
Biasanya saya selalu membagi alokasi pengeluaran sebagai berikut:
a. Min. 10% untuk saving atau investasi
b. Max. 35% untuk cicilan utang (jika ada)  sehingga ketika ingin berutang, pastikan cicilannya tidak melebihi 35% dari pendapatan dimana 15% untuk utang konsumtif, sedangkan 20% untuk utang produktif.
c. Max. 40% untuk kebutuhan yang sifatnya rutin seperti pengeluaran rumah tangga
d. Max. 15% untuk kebutuhan pribadi (alokasi inilah yang biasanya digunakan untuk memenuhi gaya hidup seseorang).

Lampiran: Mada Aryanugraha

Praktisi Konsultan Perencanaan Keuangan Personal 5

Nama : Mada Aryanugraha
Gelar (akademis & sertifikasi) : SE, RFA & CFP
Profesi : Independent Financial Planner
Lamanya menjalani profesi (tahun) : 5 Tahun
Spesialisasi keahlian profesional : Perencanaan Dana Pensiun, Dana Pendidikan Anak dan Asuransi.
Keterangan : -

1. Bagaimana tingkat konsumerisme di masyarakat, jika dilihat dari pengamatan dan pengalaman anda sebagai konsultan?
Berdasarkan pengalaman saya, Tingkat konsumerisme tinggi itu berada di level masyarakat dengan kemampuan menengah, dengan rentang gaji antara Rp. 2.000.000 sampai dengan Rp. 50.000.000. Untuk masyarakat di kelas bawah tentunya dengan pendapatan sangat terbatas hanya sanggup untuk memenuhi kebutuhan makan saja. Meskipun di sisi lain terkadang mereka masih mengutamakan untuk membeli rokok. Sedangkan masyarakat level menengah cenderung memiliki tingkat konsumtif lebih tinggi. Sedangkan untuk kelas atas jelas konsumtif tinggi tapi di imbangi dengan pendapatan yang tidak terbatas, dalam artian untuk level atas sangat menyadari kemampuan membeli mereka sudah di sesuaikan dengan apa yang mereka dapatkan dan itulah yang membuat mereka berada di level atas.

2. Apa penyebab terjadinya konsumerisme pada masyarakat?
Menurut saya konsumerisme terjadi karena beberapa hal, diantaranya yaitu:
- Gengsi, Penyakit psikologis ini tanpa disadari mengakibatkan tingkat konsumsi masyarakat meningkat. Contoh sederhananya adalah terjadi pada karyawan perkantoran di kota besar, ketika teman-teman sekantornya mengajak untuk pergi makan siang di kafe atau restoran maka akan ada rasa gengsi untuk menolak, meskipun menyadari saat itu kondisinya sedang tanggal tua. Contoh lainnya gengsi dengan tetangga/keluarga, ketika kita mengetahui ada tetangga/keluarga yang mengganti mobilnya dengan tahun terbaru, maka kita tidak mau kalah dan ikut membeli mobil yang baru. Padahal mobil yang dimiliki masih layak pakai dan mungkin baru 2-3 tahun dibeli.
- Kartu Kredit. Harus diakui banyak di masyarakat kita yang memahami bahwa kartu kredit adalah uang tambahan. Sehingga dapat mereka pergunakan sesukanya. Apalagi disaat tanggal tua, dimana uang cash yang dimiliki baik di dompet maupun di rekening sudah habis.
- Kemajuan Tekhnologi. Salah satu dampak negatif yang dihasilkan dari kemajuan teknologi adalah sifat konsumtif. Dengan banyaknya toko online saat ini mengakibatkan masyarakat semakin mudah dalam berbelanja, apalagi di kombinasikan dengan adanya kartu kredit. Hanya dengan sentuhan jari saja kita sudah bisa membeli beraneka barang dengan harga hingga jutaan rupiah. Karena kemudahan tersebut pula membuat seseorang tidak menyadari membeli sesuatu yang sebenarnya tidak di butuhkan.
- Tidak dapat membedakan antara Kebutuhan dengan Keinginan. Dengan memahami perbedaan Kebutuhan dan Keinginan maka seseorang akan lebih bijak dalam mengatur pengeluaran/pembelanjaannya. Terutama dalam membuat skala prioritas pengeluaran, hanya yang sifatnya kebutuhan saja yang harus segera di penuhi dan menunda keinginan. Sehingga ketika pendapatan ternyata pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan, maka keinginan hanya boleh di penuhi pada saat kebutuhan dasar sudah terpenuhi dan masih ada sisa dari pendapatan.
- Kurangnya Pengetahuan. Ini hal yang paling mempengaruhi sifat konsumtif seseorang menurut saya. Dengan pengetahuan yang tepat dan benar maka hal - hal diatas tidak akan membuat seseorang menjadi sangat konsumtif. Pengetahuan terutama pengetahuan akan pengelolaan keuangan yang tepat maka akan mempengaruhi kebiasaan konsumtif seseorang. Pengetahuan tentang pengelolaan keuangan harusnya menjadi soft skill yang wajib dimiliki oleh setiap orang. Sayangnya pemerintah kita tidak menjadikan ilmu pengelolaan keuangan masuk kedalam kurikulum pelajaran. Menurut saya setidaknya masuk pada kurikulum pendidikan pada level SMA dan Mata Kuliah Dasar (perguruan tinggi).

3. Bagaimana dampak konsumerisme pada kondisi keuangan personal?
Sesuai pengalaman diri saya sendiri dan maupun semua klien yang pernah saya tangani, sifat konsumtif sangat mempengaruhi kondisi keuangan seseorang. Pepatah lebih besar pasak dari pada tiang, benar-benar terjadi pada sebagian besar klien yang saya tangani, bisa dibilang dari 10 orang, 7 orang mengalami lebih besar pengeluaran bulanannya daripada pendapatan bulanan yang mereka terima. Hal ini terbukti pada saat klien saya mengisi form expenses, yang mana setelah selesai dijumlahkan dan di kalkulasikan besarnya pengeluaran lebih besar daripada yang mereka kira. Hal itu wajar terjadi karena mereka tidak pernah membuat yang namanya Budgeting/Perencanaan.
Ketika seseorang sangat konsumtif, akan mengakibatkan pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, dan ketika tabungan sudah terkuras maka akan masuk kedalam jurang hutang, salah satu contoh yang sering terjadi adalah terjerat hutang kartu kredit. Ketika sudah terjerat di hutang maka sudah tidak memungkinkan untuk berinvestasi, dan mengakibatkan tidak dapat menambah asset/kekayaan. Malah yang sering kali terjadi harus kehilangan asset (dijual atau disita) untuk melunasi hutang.
Dengan kondisi diatas maka seseorang di nyatakan bermasalah dengan keuangan, dan apabila tidak segera ditanggulangi atau di atasi maka bisa saja mengakibatkan tindakan kriminalisasi dan terjadinya perceraian.

4. Apakah pengelolaan keuangan dapat mengeliminir dampak negatif konsumerisme?
Pastinya! Tetapi sebelum mulai untuk mengelola keuangan maka wajib untuk belajar dan mempelajari ilmu pengelolaan keuangan yang benar. Meskipun sudah menggunakan jasa Perencana Keuangan, maka sebaiknya setiap orang tetap mempelajari ilmu perencanaan keuangan secara mandiri.

5. Mengapa dan bagaimana caranya?
Terkadang seseorang melakukan pengelolaan keuangan tidak secara menyeluruh (komprehensife), atau pengelolaan dilakukan berdasarkan informasi yang tidak akurat, sehingga menjadi percuma. Dengan begitu bisa saja yang tujuan awalnya adalah menabung atau berinvestasi tetapi karena informasi yang salah mengakibatkan terjadinya kerugian dan kehilangan uang. Di satu sisi Anda sudah berhemat (tidak konsumtif) dan berniat menyimpan uangnya, tetapi tetap saja jadinya kehilangan uang.
Jadi perbanyak informasi, perdalam ilmu mengenai pengelolaan keuangan yang baik, benar dan tepat. Belajar mengelola keuangan personal dapat dengan cara membaca buku terkait Perencanaan Keuangan, ikut seminar atau pelatihan seputar Perencanaan Keuangan. Atau meminta bantuan kepada Perencana Keuangan Independen yang professional.

6. Apakah konsep manajemen harta Islami menjadi landasan utama bagi seorang muslim dalam mengelola keuangan?
Saya saat ini belum terlalu mendalami terkait ilmu perencanaan keuangan secara syariah, meskipun pernah sekali mengikuti pelatihannya. Tapi menurut hemat saya, manajemen keuangan secara syariah pasti akan sangat membantu seorang muslim dalam mengelola keuangannya secara baik dan benar, apalagi tujuannya tidak hanya di dunia saja, bisa sampai ke akherat juga. Minimal ditahap awal berlandaskan ilmu perencanaan keuangan konvesional sehingga ketika pengelolaan sudah dapat di lakukan dengan benar, teratur dan konsisten maka dapat beralih mendalami perencanaan keuangan secara syariah.

7. Bagaimana seharusnya pembagian persentase alokasi pendapatan personal sehingga dapat menghindari konsumerisme?
Bicara mengenai alokasi pendapatan terhadap pengeluaran biaya hidup setiap bulannya, saya menggunakan standar sebagai berikut:
- Alokasikan maksimal 30% dari pendapatan untuk membayar seluruh hutang. Cicilan seperti KPR, KPM (kredit kendaraan bermotor), kartu kredit dan lain-lain tidak boleh lebih besar dari alokasi ini. Apabila melebihi maka harus di pikirkan bagaimana cara untuk menguranginya.
- Alokasikan Minimal 10% untuk Investasi/Menabung. Biasakan untuk investasi/menabung di sisihkan bukan di sisakan. Jadi keluarkan terlebih dahulu untuk investasi, lebih besar dari 10% lebih bagus lagi. Ini akan menjadi bekal untuk di masa depan.
- Alokasikan sekitar 10% untuk membayar/membeli premi asuransi, supaya Anda mendapatkan perlindungan/proteksi dari kerugian finansial karena kematian, sakit atau mengalami kecacatan, serta karena terjadinya bencana.
- Alokasikann sekitar 10% untuk hal-hal sosial. Misalkan untuk kebutuhan zakat, sedekah, ataupun sumbangan kepada orang-orang yang membutuhkan secara finansial.
- Alokasikan hanya maksimal 40% untuk biaya hidup. Anda akan tetap dapat hidup dengan layak meskipun hanya tersisa 40% dari pendapatan bulanan Anda. Buat skala prioritas, pahami apa yang menjadi kebutuhan Anda dan apa yang menjadi sekedar keinginan Anda.

Lampiran: Luqyan Tamanni

Praktisi Konsultan Perencanaan Keuangan Personal 4

Nama : Luqyan Tamanni
Gelar (akademis & sertifikasi) : Master of Economics (2002), Diploma in Islamic Financial Planning (2006)
Profesi : Dosen dan Konsultan Keuangan Syariah
Lamanya menjalani profesi (tahun) : 13 tahun
Spesialisasi keahlian profesional : Keuangan Syariah, Microfinance, Financial Management
Keterangan : Penulis buku manajemen keuangan keluarga 'Sakinah Finance’, bersama Murniati Mukhlisin

1. Bagaimana tingkat konsumerisme di masyarakat, jika dilihat dari pengamatan dan pengalaman anda sebagai konsultan?
Saat ini konsumerisme di Indonesia sudah sangat tinggi, baik di kalangan masyarakat urban maupun di pedesaan, bahkan di pelosok pedalaman.

2. Apa penyebab terjadinya konsumerisme pada masyarakat?
Ada beberapa sebab;
a. Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan rata-rata penduduk Indonesia, yang ikut juga merubah gaya hidup yang sebelumnya sederhana, konservatif, swa-sembada menjadi lebih konsumtif dan mengikuti arus gaya hidup (trend).
b. Perubahan struktur ekonomi yang sebelumnya agraris (lebih 50% GDP dan pendapatan perkapita dari pertanian) menjadi ekonomi berbasis industri, perdagangan dan jasa.
c. Akses yang semakin baik antara pusat produksi barang, termasuk arus impor-ekspor, dengan konsumen di seluruh Indonesia.
d. Meningkatnya kesadaran masyarakat dengan berbagai produk yang ditwarkan/tersedia di pasar, dengan semakin mudahnya jalur informasi melalui berbagai media.

3. Bagaimana dampak konsumerisme pada kondisi keuangan personal?
Konsumerisme yang tidak terkawal akan menyebabkan keuangan pribadi dan keluarga berantakan, dan dampak yang paling berat adalah terjebak dalam pusaran hutang. Jika ini terjadi, kondisi keuangan personal menjadi kritis dan harus dilakukan langkah sangat drastis untuk memperbaikinya.

4. Apakah pengelolaan keuangan dapat mengeliminir dampak negatif konsumerisme?
Tidak sepenuhnya, karena konsumerisme telah sangat mengakar dalam kehidupan masyarakat. Pengaruh dari sisi budaya, gaya hidup, atau persepsi terhadap uang, tidak akan bisa dirubah dengan pengelolaan keuangan semata. Namun, pengelolaan keuangan bisa mengurangi dampak konsumerisme dengan menciptakan sistem bagi individu untuk lebih disiplin dalam mengatur keuangannya.

5. Mengapa dan bagaimana caranya?
Pengelolaan keuangan adalah alat (tool) dalam sebuah sistem perencanaan untuk memastikan individu tetap konsisten dan patuh dengan strategi yang telah dipilih untuk mencapai berbagai impian dan tujuan keuangannya. Dan konsumerisme lebih sering merusak sistem ini karena membuat individu tidak patuh rencana, misalnya berbelanja atas dorongan nafsu belaka (impulsive shopping), atau mengeluarkan uang tanpa takaran/perhitungan yang tepat.

6. Apakah konsep manajemen harta Islami menjadi landasan utama bagi seorang muslim dalam mengelola keuangan?
Hanya salah satu landasan. Karena hemat saya landasan utama pengelolaan keuangan adalah aqidah, yang salah satu implikasinya adalah sikap qana’ah (cukup dengan apa yang ada) dan syukur. Ketika kita menjadikan harta atau materi sebagai sesuatu yang menentukan cara berfikir dan arah tujun kehidupan kita, maka pegelolaan keuangan yang Islami tidak akan berhasil.

7. Mengapa dan bagaimana caranya?
Konsep harta dalam Islam adalah amanah dari Allah SWT, hanya titipan yang harus dipertanggungjawabkan dan bisa diambil kapan saja. Untuk memahami konsep ini diperlukan keyakinan yang kuat bagi seorang Muslim, dan ini berkaitan dengan aqidah Islamiyah. Jiwa konsumen Muslim mempunyai keyakinan bahwa harta adalah amanah, hidup harus qana’ah dan penuh syukur, maka pengelolaan keuangan adalah alat pelengkap untuk menghapus konsumerisme dan dampaknya yang sangat akut, yaitu hutang.

8. Bagaimana seharusnya pembagian persentase alokasi pendapatan personal sehingga dapat menghindari konsumerisme?
Kuncinya bukan di alokasi pendapatan, tapi pada penanaman disiplin yang sangat tinggi ketika mengeluarkan uang. Seringkali alokasi yang rapi bisa berantakan ketika impulsive shopping lebih kuasa ketika masuk supermarket. Namun, tentu saja alokasi yang tepat tetap diperlukan. Idealnya, alokasi pendapatan harus disesuaikan dengan skala kebutuhan dan keperluan hidup, yaitu diatur mana yang masuk kategori dharuriyyah (primer/mustahak), hajiyyat (sekunder/keperluan hidup), atau tahsiniyyat (tersier/kelengkapan hidup/hiasan hidup). Nominalnya tentu saja subjektif antar masing-masing individu, namun kata kunci adalah disiplin.

Lampiran: Kaukabus Syarqiyah

Praktisi Konsultan Perencanaan Keuangan Personal 3

Nama : Kaukabus Syarqiyah
Gelar (akademis & sertifikasi) : SE, MSE, CFP
Profesi : Perencana Keuangan
Lamanya menjalani profesi (tahun) : 6,5 tahun
Spesialisasi keahlian profesional : Perencana Keuangan Independen
Keterangan : -

1. Bagaimana tingkat konsumerisme di masyarakat, jika dilihat dari pengamatan dan pengalaman anda sebagai konsultan?
Jadi kalo konsumerisme sekarang ya, sebenernya lebih tinggi dibandingin sekitar 5 tahun lalu. Karena kan sekarang tu kalau bentuk piramidanya kalangan kelas menengah lagi naik ni. Jadi kalau zaman dulu yah katakanlah kaya 10 tahun lalu kan kita kebanyakan menengah bawah, bahkan kalangan bawah yang benar-benar dibawah, pendapatannya menurut IDB dan World Bank dibawah seharusnya, di bawah garis kemiskinan. Cuma sekarang kan sudah mulai naik, jadi porsinya sudah mulai besar, yang termasuk tanda kutip miskin itu sudah mulai lebih sedikit karena mereka sudah mulai naik step, naik kasta ibaratnya. Orang-orang yang tadinya ada dibawah trus keatas banyak yang tadinya tidak punya apa-apa, ga bisa beli apa-apa, akhirnya kan bisa beli. Nah itulah yang meningkatkan konsumerisme. Sebagai konsultan dari tahun ke tahun pun ngeliat polanya semakin lama memang semakin meningkat. Habis ada kebutuhan dan ada supplynya juga, kafe dimana-mana ada, ya katakanlah kalau standarnya dari kafe gitu ya, contoh mister donut seperti ini zaman kaya setahun lalu ga ada, tapi karena ada demand dari kelas menengahnya juga dan ada orang yang punya modal trus dia mensupply ini ya akhirnya terciptalah.

2. Apa penyebab terjadinya konsumerisme pada masyarakat?
Berarti jawaban sebelumnya sudah menjawab juga pertanyaan kedua ya.

3. Bagaimana dampak konsumerisme pada kondisi keuangan personal?
Sebenarnya kita boleh belanja, asal ada uangnya, prinsipnya begitu. Jadi yang salah adalah kalau belanja berlebihan dan uangnya ga ada, itu yang salah. Jadi kalau konsumerisme dalam batas normal dan memang ada dananya, ga ngutang ibaratnya, ga ngutang pakai kartu kredit misalnya, itu ga masalah sebenernya. Tapi yang jadi masalah sekarang adalah: supplynya kan banyak banget nih, supplynya kaya toko-toko, sudah banyak banget yang menawarkan gaya hidup gitu kan, nah banyak juga akhirnya demand yang tercipta, dia ga punya uang tapi dia maksain, kenapa, karena kadang-kadang ada peer pressure, gitu misalnya temen-temen kita, geng gong kita misalnya handphone udah iphone semua sementara kita baru punya Samsung misalnya, mau ga mau jadinya beli gitu. Nah ini yang akhirnya jadinya jelek, orang punya gaya hidup itu sekedar agar punya eksistensi di masyarakat atau di mata orang lain. Dia ga ngecek kondisi keuangannya, itu yang jelek sebenernya.
Kondisi keuangannya jadinya berantakan donk, jadinya malah minus, ga pernah bisa nabung. Karena misalnya gini deh kaya gaji tanda petik ga seberapa tapi karena misalnya rumahnya deket mall, atau kantornya deket mall, setiap sore pulang kantor bisa nongkrong dulu, belanja, kalau ngemall itu kan minimal 50 ribu itu pasti keluar, Cuma buat duduk aja tuh 50 ribu, apalagi parkirnya segala macam misalnya, itu sudah pasti keluar. Kalau dikalikan sebulan berapa, efeknya jadi orang ga bisa nabung, berantakan, nah ini yang kadang-kadang ga disadarin oleh beberapa kalangan yang pendapatan sama pengeluarannya, jauh lebih gede pengeluarannya. Misalnya kita ke mall bisa habis sampai 20 juta sebulan, kalau gaji kita 100 juta ya ga masalah. Tapi misalnya kalau habis 20 juta buat belanja barang-barang, buat gaya hidup, tapi gaji cuma 15 juta, itu yang banyak banget terjadi, itu yang bikin jadinya negatif, jelek banget ke keuangan, jadinya minus.

4. Apakah pengelolaan keuangan dapat mengeliminir dampak negatif konsumerisme?
Banget, jadi sebenernya kalau pengelolaan keuangan kalau teknis, itu semua orang bisa deh, teori sebenernya semua orang hafal. Teori keuangan itu cuma dua kalau ga punya duit tambah penghasilan atau kurangi pengeluaran, sesimpel itu sebenernya. Kalau misalkan kita katakanlah kok hidup pas-pasan banget ya, ga bisa nabung segala rupa, kuncinya cuma dua, tambah lagi penghasilan atau kurangi pengeluaran. Kan simpelnya cuma itu, tapi sebenernya pengelolaan keuangan itu berkaitan sama mental, jadi pe-er besar sebenernya orang-orang di dunia keuangan untuk mencerdaskan keuangan itu sebenernya di mentalnya. Jadi kita punya pe-er untuk gimana caranya mengubah paradigma orang terhadap yang namanya uang. Karena kalau paradigma orang terhadap uang tu berubah, kondisi ekonomi kaya apapun dia akan survive. Berkaitan dengan mengeliminir tadi caranya yaitu mengubah mental, sadar berada dimana posisinya dia, kalau emang ga punya uang sadar aja lo ga punya duit, akuin gitu lho. Jangan sampe ga punya duit nih tapi aduh tapi kan gue pengen aduh eeeh, itu yang salah. Itu yang sebenernya cara mengeliminirnya rubah mentalnya, rubah mindset, sadar diri titiknya dimana, lo lagi kondisi apa nih, lagi kondisi ga punya duit yaudah gaya lo harus ga punya duit, jangan maksain kaya orang punya duit kalo lagi ga punya duit. Kalau lagi punya duit silahkan, tapi inget orang itu hidup kaya roda, kadang diatas kadang dibawah. Lagi diatas, siap-siap untuk dibawah gitu lho. Jadi sebenernya ketika kita belajar perencanaan keuangan, kita ngubah mental kita sendiri, mental untuk menghadapi yang namanya uang itu secara proporsional gitu.

5. Mengapa dan bagaimana caranya?
Berarti jawaban sebelumnya sudah menjawab juga pertanyaan ini ya.

6. Apakah konsep manajemen harta Islami menjadi landasan utama bagi seorang muslim dalam mengelola keuangan?
Banget. Islam itu kan memandang uang proporsional banget, banyak uang harus banyak disedekahin kan gini hakikat harta kan sebenernya cuma dua ya, harta yang kita punya. Satu adalah harta yang disedekahkan, satu adalah harta yang kita makan, sisanya kan buat ahli waris ya ga si. Duit kita kan sebenernya gitu kan, sedekahin nanti kita tuai di akhirat, yang kita makan yaitu yang kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat, sisanya kan buat ahli waris. Jadi sebenernya harta secukupnya memang harta yang udah cuma itu doank gitu. Nah sebenernya gimana Islam memandang harta, menurutku pribadi itu sudah yang paling bagus deh gitu. Kenapa, contoh nih, kenapa ada zakat maal, kenapa kalau kita punya emas harus dizakatin. Karena bener banget, emas itu kan ga bergerak di perekonomian, makanya kalau ga bergerak di perekonomian ada yang apa namanya, jadi kotor gitu kan, makanya harus dikeluarin tuh 2,5 %. Maka Islam sebenernya ngajarin biar uang itu muter tuh dalam perekonomian. Rasulullah, sahabat mencontohkan suruh berbisnis. Dalam perencanaan keuangan konvensional yang biasa pun, bisnis itu adalah tameng terakhir sebenernya, jadi sebenernya endingnya nih financial planning adalah kita harus punya bisnis sebenernya ya kalau di perencanaan keuangan yang konvensional. Jadi yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat gitu ya kalau dicontohkan itu sudah yang paling ini banget, sebenernya perencanaan keuangan konvensional itu justru mengikuti banget tuh bagaimana Rasulullah bersikap. Kaya contohnya punya harta langsung disedekahin, harta langsung diputer ke masyarakat, dibisnisin, itu kan para sahabat seperti itu kan, punya harta ga pernah buat dirinya sendiri, diputer lagi, itu kan sebenernya perencanaan keuangan konvensional juga seperti itu. Ga ada tuh kita nyaranin kaya harta ditumpuk-tumpuk, ngga. Karena kalaupun ditumpuk itupun pasti ada tujuannya, misalnya buat apa, dana pendidikan, buat dana pensiun, itu udah ada tuh alokasi-alokasinya. Itupun yang diajarin sama Rasulullah sebenernya, jadi bisa banget manajemen harta Islami tuh digunakan oleh seorang muslim sebenernya.

7. Mengapa dan bagaimana caranya?
Berarti jawaban sebelumnya sudah menjawab juga pertanyaan ini ya.

8. Bagaimana seharusnya pembagian persentase alokasi pendapatan personal sehingga dapat menghindari konsumerisme?
Jadi kalau baku secara konvensional, itu kan standar ya, nabung pertama kan zakat lah sebagai muslim, zakat infaq sedekah udah dikeluarin duluan. Trus yang kedua bayar hutang. Bahkan beberapa tulisan yang pernah kubaca, bayar hutang dulu baru zakat karena kan kewajibannya memang bayar utang gitu, tapi zakatnya tetep dari gaji total semua kan, Trus udah gitu baru setelah itu menabung, nah setelah itu baru buat kehidupan duniawi kita gitu. Menabung ini nanti akhirnya buat dana pensiun, dana pendidikan anak, dana, mungkin pengen punya rumah gitu udah dibagian menabung, sisanya baru buat hidup. Itu yang konvensional aja ngajarinnya gitu, nabung itu didepan, untuk kehidupan itu di belakang. Nah tapi kalau dalam Islami, mungkin nanti bisa dicek sendiri, apalagi kalau nanti misalnya sama Pak Muhaimin Iqbal ya, karena seingetku, Pak Muhaimin yang punya geraidinar.com itu, karena setahuku beliau yang cukup concern untuk financial planning Islamic. Kalau aku sama Pak Teguh kan kita walaupun, kaya Pak Teguh master banget di syariah Islamic financial planning gitu kan, tapi beliau juga mengerti sekali konvensional gitu kan. Tapi kalau Pak Muhaimin Iqbal itu kan dia hanya fokus di Islamic financial planning, nah beliau pernah ngisi, beliau bilang bahwa dalam salah satu hadits, tapi aku ga tau perawinya siapa itu ga ngerti, jadi kalau dalam Islam itu pernah dicontohkan oleh salah satu sahabat harta itu dibagi 3, sepertiga itu adalah untuk hidup, sepertiga untuk berzakat, sedekah, infaq, wakaf, sepertiganya lagi adalah untuk bisnis. Bayangin itu versinya para sahabat, sepertiga doank untuk hidup, sepertiganya untuk zakat, infaq, sedekah, wakaf, yang terakhirnya adalah untuk bisnis. Jadi memang yang sepertiga itu buat investasi gitu. Itu sih kalau di Islamic financial planning. Itu yang saklek ya, karena memang gini, kalau di financial planning itu memang rangenya besar banget, maksudnya didalemnya pun mahzabnya beda-beda. Nanya ke aku, nanya ke Ahmad Gozali, misalnya, perencana keuangan lain, atau misalnya mba Prita Ghozie, itu memang gayanya bisa beda-beda, kenapa karena kita pun punya spesifikal lain yang beda-beda. Dan emang bener deh, semakin lama semakin kesini itu aku ngeliat keuangan itu ga bisa baku, karena kan tiap orang beda banget gitu kan, hidupnya juga beda, secara ekonomi juga beda, kelas menengah aja jenjangnya banyak banget gitu jadi memang ga bisa disamain, tapi yang paling penting adalah, kesepakatan bersamanya adalah minimum banget itu nabung didepan, dan minimum banget itu 10% itu udah minimum banget. Tapi itu semuanya udah didepan, bayar utang itu udah didepan, trus zakat infaq shodaqoh atau yang berkaitan dengan sosial itu udah didepan, sisanya adalah berapapun prosentasenya itu adalah buat hidup. Jadi udah tenang lah ibaratnya mau ngabisin duit juga yaudahlah yang penting nabung udah, urusan duniawi udah, urusan akhiratnya udah, urusan hutang udah selesai.

Lampiran: Fadjar Hutomo

Praktisi Konsultan Perencanaan Keuangan Personal 2

Nama : FADJAR HUTOMO
Gelar (akademis & sertifikasi) : ST, MMT, CFP QWP AEPP
Profesi : Pemerhati Perencanaan Keuangan dan Permodalan
Lamanya menjalani profesi (tahun) : 15 tahun
Spesialisasi keahlian profesional : Personal Finance dan Feasibility Study
Keterangan : -

1. Bagaimana tingkat konsumerisme di masyarakat, jika dilihat dari pengamatan dan pengalaman anda sebagai konsultan?
Tingkat konsumerism di masyarakat , seiring dengan kenaikan pendapatan per kapita masyarakat , akan mengalami kenaikan. Semakin besar penghasilan seseorang, semakin besar kecenderungan bertambahnya pengeluaran. Apalagi dengan didorong oleh kemajuan teknologi komunikasi yang membuat masyarakat makin mudah memperoleh informasi tentang berbagai hal. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan oleh para produsen untuk terus menjejali ruang pribadi masyarakat dengan berbagai informasi tentang produk yang mereka buat dan mereka jual. Bagaimanapun Tingkat Konsumsi merupakan salah satu pendorong mesin pembangunan

2. Apa penyebab terjadinya konsumerisme pada masyarakat?
Konsumerisme pada masyarakat bisa disebabkan oleh berbagai hal, antara lain :
• Faktor Budaya atau Lingkungan Masyarakat, termasuk gencarnya promosi dari produsen
• Tingkat Pendidikan (Financial Literacy)
• Tingkat Pendapatan

3. Bagaimana dampak konsumerisme pada kondisi keuangan personal?
Jika tidak terkendali tentunya konsumerisme akan sangat mengganggu bahkan menghancurkan kondisi keuangan perorangan maupun keluarga. Apalagi jika kemudian hal ini diikuti dengan kebiasaan berhutang untuk memenuhi keinginan nafsu konsumerisme nya. Kebutuhan kebutuhan yang primer dan jangka panjang bisa terabaikan gara gara memenuhi nafsu konsumerisme ini yang bersifat sesaat dan non produktif.

4. Apakah pengelolaan keuangan dapat mengeliminir dampak negatif konsumerisme?
Ya, pengelolaan keuangan yang baik akan dapat mengeliminir dampak negatif dari konsumerisme

5. Mengapa dan bagaimana caranya?
Pengelolaan keuangan yang baik akan meminimalkan dampak dari penggunaan sumber daya keuangan untuk kegiatan non produktif dengan memprioritaskan nya pada kegiatan produktif terlebih dahulu. Kebutuhan untuk kegiatan produktif seperti investasi, menabung untuk dana darurat, kebutuhan proteksi dialokasikan terlebih dahulu dari pendapatan, baru kemudian sisa nya dikonsumsi sesuai kebutuhan.

6. Apakah konsep manajemen harta Islami menjadi landasan utama bagi seorang muslim dalam mengelola keuangan?
Seharusnya demikian, karena visi kehidupan seorang muslim sesungguhnya harus melebihi kehidupan nya di dunia, karena visi kehidupan seorang muslim adalah visi kehidupan dunia dan akhirat. Begitupun seharusnya cara pandang dan cara kelolanya terhadap harta yang dimilikinya. Karena harta yang dimiliki seorang muslim harus memiliki kemanfaatan dunia dan akhirat

7. Mengapa dan bagaimana caranya?
Mengapa nya seperti yang saya sudah sampaikan di point 6. Caranya bisa mengacu kepada konsepsi pengelolaan keuangan seperti yang dihikmahkan dalam Surat Yusuf ayat 46 - 49 (life cycle investing: Growth, Protection, Distribution)

8. Bagaimana seharusnya pembagian persentase alokasi pendapatan personal sehingga dapat menghindari konsumerisme?
Pendapatan personal kita seyogyanya dialokasikan untuk kebutuhan sebagai berikut : Charity - Investasi (dan Proteksi) - Konsumsi

Lampiran: Eko P. Pratomo

Praktisi Konsultan Perencanaan Keuangan Personal 1

Nama : Eko P. Pratomo
Gelar (akademis & sertifikasi) : Ir. MBA, ChFC, CLU, WMI
Profesi : Saat ini sebagai Senior Advisor salah satu Perusahaan
Manajer Investasi
Lamanya menjalani profesi (tahun) : 27 tahun
Spesialisasi keahlian profesional : Investment Profesional
Keterangan : -

1. Bagaimana tingkat konsumerisme di masyarakat, jika dilihat dari pengamatan dan pengalaman anda sebagai konsultan?
Menurut saya, secara kualitatif, sudah mengkhawatirkan.

2. Apa penyebab terjadinya konsumerisme pada masyarakat?
Banyak hal, diantaranya:
- belum ada gerakan masal edukasi finansial
- pelajaran agama belum menyentuh tatanan akhlak dan perilaku
- rendahnya keteladan dari orang tua, guru, pejabat, public fugure
- media terutama TV yg tidak mendidik dan justru mengumbar materialisme
- rendah nya kontrol terhadap tawaran kredit

3. Bagaimana dampak konsumerisme pada kondisi keuangan personal?
Umumnya berujung pada "lebih besar pasak drpada tiang", tidak ada kemampuan menabung, bahkan terjerat utang karena berorientasi pemenuhan keinginan drpada kebutuhan. Orientasi tujuan finasial berjangka pendek dan mengabaikan perispan utk kebutuhan masa depan.

4. Apakah pengelolaan keuangan dapat mengeliminir dampak negatif konsumerisme?
Edukasi tentang perlunya pengelolaan keuangan mungkin tidak bisa mengeliminir tetapi paling tidak megurangi budaya konsumerisme.

5. Mengapa dan bagaimana caranya?
Edukasi finansial yg baik tidak sekedar memberi ilmu tentang cara mengelola keuangan, tetapi membangun kesadaran-2 a.l.:
- perlunya memiliki tujuan (kebutuhan) hidup masa kinindan maaa datang dan menyadari adanya implikasi finansia yang besar dan terus meningkat yang perlu dipersiapkan sedini mungkin
- perlunya selalu memiliki tabungan rutin untuk "mencicil" biaya kebutuhan masa depan
- perlunya memahami instrumen keuangan sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan

6. Apakah konsep manajemen harta Islami menjadi landasan utama bagi seorang muslim dalam mengelola keuangan?
Ya.

7. Mengapa dan bagaimana caranya?
Harta dalam Islam adalah amanah yg harus dipertanggung jawabkan, sehingga mendapatkan dan memanfatakannya hatmrus dalam koridor yang digariskan dalam Al Qur'an dan Hadist. Pengelolaan keuangan harus dilakukan bukan hanya bertujuan memenuhi kebutuhan duniawi saja, namun sbg bagian dari ibadah untuk meraih keselamatan di akhirat kelak

8. Bagaimana seharusnya pembagian persentase alokasi pendapatan personal sehingga dapat menghindari konsumerisme?
Tergantung besarnya penghasilan dan prioritas tujuan finansial seseorang atau keluarga, namun secara umum alokasi pendapatan setelah pemenuhun pajak dan zakat sbb:
- Pengeluaran Primer / kebutuhan dasar, termasuk cicilan : 50 %
- Pengeluaran untuk lebutuhansekunder : 20 %
- Tabungan dan investasi masa depan : 30 %

Kerangka SNLKI OJK 2017

Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (Revisit 2017) Otoritas Jasa Keuangan BAB 1 Menuju Masyarakat Indonesia yang Well-literate...